Di salah satu dari poling yang paling menakjubkan, Gallup melaporkan
awal bulan ini bahwa 69 persen dari warga Amerika "mengikuti peristiwa
di Mesir dengan seksama," dan 83 persen dari mereka "merasa simpati
dengan para pemrotes." Ketika orang-orang menganggap macam Islamophobia
merata yang telah menulari badan
politik negara ini selama satu dekade
terakhir, tingkatan identifikasi dengan massa Mesir bukan semacam
revolusioner.
Sekarang ada semacam padanan dari poling Gallup tersebut,
mengungkapkan bahwa orang-orang Amerika tidak membutuhkan Sam Cooke
untuk mengatakan kepada mereka bahwa "sebuah perubahan akan datang."
Asosiasi Penulis Bola Basket AS baru menyebutkan pemain basket pria
Arsalan Kazemi dari Rice dan pemain wanita Bilqis Abdul-Qaadir dari
Memphis sebagai rekan pemenang dari "penghargaan yang paling memberi
semangat." Mereka diakui secara eksplisit karena menantang Islamophobia,
prasangka buruk, dan ketidaktahuan. Tidak ada seorangpun yang akan
pernah membingungkan USBWA (Asosiasi Bola Basket AS) dengan Dewan
Hubungan Amerika-Islam (CAIR). Namun pengakuan mereka atas apa yang
kedua pemain basket tersebut telah hadapi adalah sebuah hantaman untuk
setiap bacokan dari Peter King (Anggota Kongres AS) dan Fox News yang
berpikir bahwa Arab dan Muslim ada hanya untuk disetankan.
Siswa tingkat dua, Kazemi adalah atlet Divisi I pertama kelahiran
Iran di Divisi NCAA. Seorang fanatik NBA pada masa mudanya, Kazemi
adalah seorang pemuda berbakat di Timur Tengah namun menolak tawaran
untuk bermain secara profesional sehingga ia bisa menggunakan
kesempatannya di negara-negara tersebut. Karena Iran dibuat sebagai
bagian dari "poros kejahatan," ia harus melakukan perjalanan 500 mil ke
Doha hanya untuk mendapatkan visa – namun semua itu sepadan jika
semuanya dimaksudkan untuk bermain basket di negara yang sama dengan
Kobe dan Lebron.
Kazemi, bagaimanapun juga, menerima sebuah pendidikan keras dalam
menjadi
Muslim di AS dan secara ironis – atau selayaknya – cukup,
terjadi di Bandara Internasional George W. Bush di Houston. Setelah
turun dari pesawatnya dan meregangkan badan setinggi enam kaki tujuh
inchi-nya, Kazemi disambut oleh tiga petugas yang membawanya ke dalam
ruangan di bandara untuk menanyainya selama enam jam. "Saya bukan
teroris," ia mengatakan kepada mereka. "Jika Anda tidak percaya saya,
pulangkan kembali saya ke negara asal saya."
Kazemi kemudian menyembunyikan fakta bahwa ia terlahir dan dibesarkan
di Iran, hanya mengatakan kepada orang-orang ia dari Timur Tengah.
Kemudian sebuah insiden di sebuah pom bensin mengajarkannya bahwa
bersembunyi bukanlah sebuah pilihan. Kazemi mengatakan kepada kantor
berita New York Daily News, "(Pria ini berjalan ke arah saya dan)
mengatakan, 'Saya akan membunuhmu.' Kemudian ia mengatakan bahwa ia
bercanda. Pada awalnya saya takut. Jika Anda saya, tidakkah Anda juga
takut?"
Setelah itu, Kazemi muncul dar lemari etnisnya, keluar dan bangga
tentang warisan budayanya. Ia juga muncul ke publik tentang
pengalamannya di luar lapangan sebagai seorang berkebangsaan Iran.
Sekarang Kazemi memimpin Konferensi USA dalam rebound dan dalam melempar
bola (shoot) Field Goal. Tidak tahu lagi prestasi yang mana yang lebih
hebat: perjalanannya atau bahwa ia mencapai prestasi tersebut di
Universitas Rice. Selain itu, prestasi tersebut seharusnya menginspirasi
siapa saja yang berpikir Islamophobia harus ditantang.
Sebagai penjaga (guard) tahun pertama, Bilqis Abdul-Qaadir, adalah
Muslim wanita pertama dalam sejarah yang bermain dalam Divisi I bola
Basket dengan lengan, kaki dan rambut yang tertutupi. USWBA memuji-muji
Abdul-Qaadir karena harus "berhadapan dengan sentimen anti-Muslim."
"Di SMA, seseorang memanggil saya putri Osama bin Laden," ia
mengatakan pada kantor berita Memphis Commercial Appeal. "Itu dulu waktu
di Holyoke Catholic. Kami mengalahkan mereka setiap kami bermain dengan
mereka."
Karena secara pribadi dan politik percaya diri, Abdul-Qaadir berada
luar lapangan, ia bahkan lebih baik dengan bola di tangannya. Sebuah
garis dasar ke garis dasar yang buram, Abdul-Qaadir adalah penyabet
penghargaan Pemain Tahunan di Massachusetts tahun 2009, menjadi pemain
pertama dalam sejarah negara bagian tersebut, wanita ataupun pria, yang
mencapi skor, 3.000 point. Dalam debutnya sebagai seorang siswa kelas 8,
Abdul-Qaadir jatuh 43 poin dan tidak pernah melihat ke belakang. Pada
permainan terakhir di SMA-nya, ia mencetak angka 51 dari 57 poin dalam
timnya. Namun masih banyak orang yang hanya bisa menilai penampilannya
dan bukan permainannya. Dari semua itu, Abdul-Qaadir menunjukkan sebuah
kesabaran yang luar biasa ketika pertanyaan tentang penampilannya
muncul. Namun ia sangat jelas, bahwa semua pertanyaan tersebut harus
diangkat dengan rasa hormat.
Ketika ia mengatakan kepada Sport Illustrated selama tahun seniornya
"Ketika beberapa orang datang kepada saya dengan, 'Oh, apakah itu taplak
meja di kepalamu?' benar-benar, jangan tanyakan. Jika Anda akan
menanyakan pertanyaan semacam itu, jangan tanya saya. Namun beberapa
orang benar-benar jujur dalam menanyakan sebuah pertanyaan, seperti,
'Oh, saya tidak bermaksud kasar, tapi, mengapa Anda mengenakan itu
(jilbab)?' Itulah macam pertanyaan yang akan lebih saya pilih untuk
menjawabnya."
Kazemi dan Abdul-Qaadir telah menunjukkan sebuah kedewasaan dan
keteguhan yang fantastis. Namun bahkan lebih fantastis adalah fakta
bahwa USWBA telah memilih untuk mengakui mereka karena keberanian
mereka. Ini adalah sebuah pertanda bahwa para pelaku Islamophobia
kemungkinan banyak menghabiskan hari mereka di bawah matahari, namun ada
begitu banyak yang lebih layak untuk cahaya siang hari. (ppt/tn) www.suaramedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar